Home » Featured » Ada yang Aneh dalam Kasus Bioremediasi
Dony Indrawan (1)

Ada yang Aneh dalam Kasus Bioremediasi

Ada yang Aneh dalam Kasus Bioremediasi

MigasReviewKESDM Bantah Jual Gunung Ciremai ke Chevron. Baca ... », Jakarta – Vonis Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi kepada sejumlah mitra dan karyawan PT Chevron Pacific IndonesiaSKK Migas: Etika Bisnis Jauh di Atas Kontrak. Baca ... » (CPI) dalam kasus proyek bioremediasiKasus Bioremediasi Chevron Bisa Jadi Iklan Buruk Indonesia. Baca ... » sangat memukul perusahaan. Tidak saja karena mereka selama ini merasa sudah mematuhi hukum dan ketentuan yang berlaku di Indonesia, kasus ini mereka nilai tidak berdasar. Selain itu, menurut Chevron, saksi ahli yang dihadirkan berasal dari pihak yang kalah dalam tender proyek tersebut.

Berikut penjelasan Manager for Corporate Communication PT CPI Dony Indrawan yang ditemui di sela Konvensi dan Eksibisi the Indonesian Petroleum Association (IPA) ke-37 di Jakarta Convention Center pekan lalu.

—————–

Bisa dijelaskan proses bioremediasi yang dilakukan Chevron?

Bicara operasi migasOpsi Transisi Ditawarkan agar Produksi Tidak Terganggu. Baca ... » secara umum, sangat nyata bahwa dengan kami melakukan eksplorasi, eksploitasi, pengembangan lebih lanjut dan lain-lainnya, pasti melibatkan aktivitas-aktivitas yang memunculkan limbah. Kemudian, program remediasi sekarang ini lebih banyak difokuskan pada penanganan dan pengelolaan lingkungan atau limbah dari operasi kami di masa lalu, di tahun-tahun 1950-an, 60-an, 70-an atau 80-an di mana saat itu, secara hukum praktik-praktik tersebut masih diperbolehkan. Praktik itu misalnya membuat jalan lebih keras dengan cara disiram dengan minyak karena belum ada aspal waktu itu.

Kami berada ke Indonesia sudah hampir 90 tahun, masuk pada 1924 ke Sumatera yang masih hutan belantara. Orang-orang belum ada yang masuk ke situ.

Jadi, sebetulnya apa yang kami lakukan ini merupakan komitmen untuk meminimalisasi dampak dari operasi migas Chevron. Nah, cita-cita yang kami miliki ini kemudian kami mulai lakukan setelah kami melihat bahwa upaya itu makin nyata, dan harus dicari tata cara yang paling tepat untuk melakukannya.

Maka pada 1994, kami mencari tahu teknologi dan aplikasi yang tepat untuk pengelolaan limbah di wilayah operasi kami. Kemudian, kami melakukan uji laboratorium atas teknologi yang menggunakan apa yang disebut sebagai bioteknologi yaitu bioremediasiSKK Migas: Etika Bisnis Jauh di Atas Kontrak. Baca ... » dengan menggunakan mikroba pada saat itu. Mikroba-mikroba dari mana? Ya, mikroba yang ada di dalam tanah itu. Nah, diujilah pada 1994 sampai dengan 1997 dengan melakukan berbagai hal. Sampai pada akhirnya kami merasa yakin secara laboratorium bahwa itu ada hasilnya. Kontaminasi minyak di dalam tanah itu ternyata bisa diurai.

Maka 1997 sampai dengan 2000-an, kami uji coba ke lapangan. Karena apa? Suatu wilayah tertentu, dengan cuaca tertentu, dengan mikroba yang ada di dalam tanahnya, itu kan sangat spesifik. Oleh karenanya dibutuhkan pembuktian apakah mikrobanya cukup efektif, cukup kuat, dan cukup cepat untuk mengurai minyak yang ada di dalam tanah yang terkontaminasi. Itulah sebabnya kami melakukan uji coba lapangan tersebut. Sampai akhirnya kami merasa yakin.

Nah, yang paling penting dari proses ini adalah keterlibatan tidak saja Chevron tetapi juga universitas, ahli-ahli dari fakultas dan juga Kementerian Lingkungan Hidup. Maka, pada 2000  Chevron memintakan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk menggunakan teknologi bioremediasi dari operasi yang dilakukan di Sumatera.

Teknologi tersebut sudah diterapkan pihak lain atau baru Chevron?

Untuk di Indonesia, baru Chevron yang melakukan. Tetapi kalau bicara metode, teknologi ini sudah diterapkan oleh banyak negara dan industri yang berbeda-beda, baik itu industri migas, industri otomotif, hingga industri kimia. Semua ada aturannya. Di Kanada ada aturannya, di Eropa ada aturannya, di Amerika ada aturannya. Dan, kami mengikuti standar internasional itu untuk melakukan program ini.

Maka, pada 2000 kami meminta izin, dan pada 2002 terus melakukan improvement mengenai perkembangannya. Pada 2002, izin tersebut diberikan oleh KLH untuk penggunaan teknologinya.

Akhirnya, pada saat itu karena teknologinya sendiri sudah ditemukan  dan SOP-nya sudah selesai dibuat, kami tahu apa yang meski dilakukan. Misalnya, bagaimana mikroba tersebut harus mendapat nutrisi yang cukup, mendapat oksigen yang cukup, dan mendapat lingkungan yang sesuai. Pada 2003, KLH memiliki komitmen yang tinggi untuk memastikan ada regulasinya. Maka, KLH mengeluarkan Kepmen 128/2003 yang khusus mengatur mengenai bagaimana pengolahan limbah dengan menggunakan bioteknologi atau bioremediasi. Dan pada 2003, bioremediasi dijalankan oleh Chevron di wilayah Sumatera.

Sekarang kenapa memakai kontraktor?

Seiring waktu, biaya operasi migas pasti membesar. Ini karena produksi makin sulit dan teknologi yang tidak mudah diterapkan. Di sisi lain, kami juga harus melakukan efisiensi sehingga pengelolaan organisasi perusahaan pun lebih bagus dalam menekan tingkat biaya operasi. Dan, itu tentu saja yang juga di-support oleh pemerintah. Karena, dalam mekanisme product sharing contract (PSC) kami, pemerintah mendapat 88 persen dan Chevron 12 persen.

Dari sini kemudian kami melihat ada opportunity untuk alih daya. Perlu diingat, teknologi dan SOP sudah selesai kami buat. Artinya, yang kami butuhkan adalah mereka yang bisa melakukan pemeliharaan dan pengelolaan proses bioremediasi. Ini kan memang secara undang-undang bisa dialihdayakan. Makanya, ini disetujui oleh SKK MigasEgo Sektoral Hambat Pengadaan Tanah Industri Migas. Baca ... » dengan menggunakan peraturan PTK 007 untuk tender terbuka.

Nah, dalam hal ini yang dikontrakkan apa? Seperti yang saya sebutkan tadi, kontrak ini seperti untuk pemeliharaan aktivitas bioremediasi dan pengerjaan aktivitas sipil di lapangan. Aktivitas sipil melibatkan siapa? Kontraktor pada umumnya, bukan kontraktor ahli pengolahan bioremediasi. Jadi selama ini, yang kami mintakan hanya sebatas itu. Ini karena semua teknologi dari kami, SOP harus mengikuti kami, sehingga kontraktor lebih kepada apakah mereka memiliki alat berat atau tidak. Bahwa mereka memiliki pengalaman, itu jauh lebih bagus. Tetapi itu tidak menjadi syarat utama untuk melamarnya. Dan, itulah yang terjadi.

Mulai 2006, ada kontraktor yang ditunjuk setelah menang tender untuk menjalankan proses bioremediasi, yakni PT. Green Planet Indonesia dan PT. Sumigita Jaya.

Bagaimana ceritanya kok Kejaksaan Agung bisa menyelidiki Chevron?

Kurang lebih pada Oktober 2011 datanglah surat dari Kejaksaan Agung  tentang penyelidikan atas laporan masyarakat. Begitu kata-katanya. Ada dugaan tindak pidana korupsi karena ada proyek yang dianggap fiktif. Itu selang tidak lama sejak tender 2011 berakhir yang dimenangi oleh PT. Sumigita Jaya dan PT Green Planet Indonesia. Nah, yang tidak dipahami isinya oleh banyak pihak bahwa PTK 007 itu sangatlah ketat. Dalam prosesnya, siapa yang pertama kali mendaftar di tender itu harus lulus kualifikasi administrasi dan itu dinilai/di-review oleh pihak precurement Chevron, bukan pihak user yang memiliki proyek bioremediasi. Mereka berbeda divisi dan melapor ke pimpinan yang lain pula.

Dan, jujur saja. Memang pada saat itu, kami polos menanggapi kasus tersebut. Karena memang kan proyek ini kami mulai dari 1994. Pada saat dibilang kegiatan fiktif, kami hanya kaget saja. Masak sih ada yang ngelapor begini?

Lalu, salah satu karyawan kami yaitu Endah Rubianti atau sering akrab dipanggil Ibu Rumbi diminta berinteraksi dengan proyek bioremediasi oleh atasannya. Kenapa dipilih dia? Ibu Rumbi ini adalah sosok yang pintar. Beliau baru pulang dari Amerika pada 2010 dan baru diangkat menjadi manajer di Chevron persis sebelum kontrak berakhir. Tetapi dakwaannya adalah dia melakukan korupsi itu dari 2006.

Kapan tender tersebut berakhir?

Saya lupa ya pastinya. Tapi yang saya ingin katakan adalah ada salah satu peserta tender yang gagal yakni Edison Effendi (yang kemudian jadi saksi ahli dalam kasus ini, red). Kalau nggak salah itu Agustus 2011. Itu ada tanda tangan para pengikut tender yang gagal dalam tender terbuka tersebut.

Atas instruksi dari atasannya, Endah Rumbianti datang ke Kejaksaan Agung untuk menjelaskan mengenai soal proyek bioremediasi. Pada saat menjelaskan, Ibu Rum ini masih membuka kontrak dan beberapa dokumen. Dan, penjelasan itulah yang pada akhirnya memasukkan dia sebagai salah satu terdakwa dan dipenjara. Jadi tidak ada cerita lain kecuali muncul pada Maret tanggal 16, di website Kejaksaaan Agung di mana nama beliau menjadi salah satu koruptor proyek bioremediasi.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa harus beliau yang di tunjuk Chevron untuk menjelaskan kepada Kejaksaan Agung, padahal proyek tersebut bukan beliau yang menangani?

Harus dibayangkan bahwa tidak semua orang Chevron mampu berbicara dengan jelas, keras, dan mampu menjelaskan pokok persoalannya. Jadi sesimpel itu sebenarnya. Bulan Desember waktu itu, Ibu Rum menghadap Kejaksaan Agung. Setelah itu, tidak ada ceritanya lagi. (jamal saripudin)

Index Kategori Ini »


Baca juga yang iniclose