Home » Featured » Eksplorasi Itu Bukan Cuma Ngebor
Andang Bachtiar

Eksplorasi Itu Bukan Cuma Ngebor

Eksplorasi Itu Bukan Cuma Ngebor

Dalam industri minyak dan gasESDM: Konsumsi Gas untuk Domestik Diupayakan 45 Persen. Baca ... » (migasPengembangan Industri Migas Butuh Pemimpin Bervisi Jangka Panjang. Baca ... »), ada tiga pilar yang wajib diketahui mereka yang bercimpung di sektor ini. Ketiga pilar ini adalah produksi, replacement to reserve ratio (RRR), dan ketahanan energiReinjeksi Migas ke dalam Perut Bumi sebagai Giant Storage. Baca ... ». Ketiga pilar itu menjadi sangat relevan saat ini di tengah turunnya produksi, naiknya konsumsi, dan kebutuhan untuk mengamankan pasokan minyak dalam negeri. Dogma di kalangan industi migas menyebutkan bahwa untuk 1 barel minyak yang diambil, harus ada 1 barel reserve yang ditemukan.

Data 2009 yang dilansir oleh  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDMENI Incar Eksplorasi Migas yang Belum Dikerjakan. Baca ... ») menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 128 cekungan. Di sisi lain, kunci RRR ada pada temuan-temuan cadangan. Sayangnya, soal eksplorasi ini sering kali tidak dipahami secara benar, dan apa yang dimaksud sebagai eksplorasi itu kabur. Bayangan orang, eksplorasi itu adalah mengebor di laut dalam atau di tempat-tempat yang belum pernah dibor. Padahal sebelum mengebor di tempat yang belum pernah dibor itu, prosesnya banyak dan tidak pernah terbayangkan. Proses ini tidak pernah dilakukan di Indonesia. Intinya, PR-PR dasar mengenai eksplorasi migas itu tidak dilakukan.

Padahal, mengambil data dan melakukan studi itu adalah bagian paling dasar dalam eksplorasi. Rangkaian eksplorasi dimulai dari studi-studi tentang konsep, penemuan cekunganDendam Lama Picu Penemuan Cadangan Migas Baru. Baca ... », usulan akusisi seismik hingga akhirnya mengebor. Proses intelektual paling banyak itu dilakukan sebelum mengebor. Usaha-usaha sebelum mengebor itu bahkan sebenarnya mencakup 80 persen tapi biaya yang diperlukan hanya 20 persen dari keseluruhan proses eksplorasi.

Berikut penuturan Ketua Dewan Penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Andang Bahctiar kepada MigasReview.com yang menemuinya beberapa waktu lalu di kantornya di kawasan Tebet.

Seharusnya seperti apa kita memahami eksplorasi?

Seharusnya, konsep-konsep dasar besar geologi itu digodok di lembaga-lembaga riset dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi. Selama ini, semua itu hanya dilakukan oleh nama-nama terkenal di dunia yang datang ke Indonesia, seperti Robert Hall. Dia adalah konseptor tektonik yang menjelaskan Indonesia itu seperti apa, di mana tempat-tempat yang mungkin terjadi perubahan lempeng. Lempeng Benua Asia itu terdiri atas beberapa sub lempeng, dan dari sub-sub lempeng itu ada cekungan-cekungan baru dan sebagainya. Itulah konsep-konsep besar itu, PR-PR besar itu, yang membuat orang pada akhirnya bilang “oke, kalau begitu saya akan mengebor di sana. Sebelum ngebor, saya akan menambah data seismikPengembangan Lapangan Migas Butuh Perencanaan Detail. Baca ... » yang sebelumnya tidak pernah ada data seismiknya”. Yang punya seismik siapa? Orang asing itulah yang mendaftarkan diri ke Ditjen Migas untuk melakukan apa yang sering disebut sebagai speculative survey dan melakukannya.

Itu yang tidak pernah dilakukan Indonesia. Jadi, konsep-konsep besar untuk mencari migas itu harus dilakukan. Jangan mengganggap mencari migas itu sama dengan mencari batubara misalnya. Kalau ada hitam-hitam, ya sudah, dicari di situ. Padahal, oil and gas itu tidak kelihatan, apalagi yang di laut. Studi-studi besar seperti tektonik Indonesia itu akan mengurai bagaimana kemungkinan kita bisa mendapatkan Minas baru, Duri baru, Natuna D-Alfa baru, Cepu baru, dan Tangguh baru.

Apa mereka sudah ada bayangan sebelumnya sebelum melakukan spec survey tersebut?

Mereka sudah studi sebelumnya. Studi-studi yang mereka lakukan adalah studi-studi mendasar atau studi-studi besar skala tektonik, skala-skala besar di mana kira-kira tempat yang bagus untuk disurvei. Bisa jadi gambling-nya dimulai dari situ. Ketika mereka nge-run (mengambil, red) seismik data, ternyata tidak ada minyaknya. Tetapi kalau studinya benar, pada akhirnya akan ketemu juga minyaknya. Seperti Blok Semai pada 2005, di mana blok itu ditenderkan oleh pemerintah sehingga Hess Pangkah Indonesia Ltd bisa mendapatkan US$ 40 juta sebagai signature bonus, mengalahkan konsorsium Shell dan PertaminaPenerapan EOR oleh Pertamina EP. Baca ... », sehingga memicu diprotes.

Apa yang bisa dilakukan dengan hasil studi-studi itu?

Ada peraturan yang menyebutkan, 5-7 tahun mereka tetap bisa meng-keep data itu dan memperjualbelikannya. Itu memang ada aturannya. Kasarnya, pemerintah tidak mampu melakukan akuisisi sendiri, akhirnya mereka yang melakukan, lalu mereka presentasi di mana-mana. Datanya dijual 1 paket harganya US$ 1 juta, dan itu terjadi. Yang untung siapa? Ya mereka. Sebagian uang itu apakah masuk ke kas negara? Ya, ada yang masuk dari izin-izin itu.

Mengapa Indonesia tidak pernah punya ide untuk mencari daerah-daerah baru? Apakah pemerintah tidak punya dananya?

Saya rasa ada. Dananya sekitar Rp.50-70 miliar untuk ekplorasi studi-studi itu. Tapi itu seringkali dititipkan ke company-company asing itu, paling US$ 3-5 juta, yang kemudian berarti akan masuk ke kita. Inilah. Kita tidak pernah punya ide-ide besar untuk mau ke mana karena tidak ada studi. Guna ekplorasi itu membiayai riset-riset dasar. Parahnya lagi, orang-orang di perguruan tinggi juga tidak mengerti eksplorasi itu. Ya gimana? Mereka juga sudah tidak melakukan riset-riset dasar geosains. Orang-orang yang jago-jago di perguruan tinggi sekarang ini hanyalah melakukan hal-hal yang sifatnya operasional. Seperti misalnya, di daerah yang sudah ketemu, lapangannya mau dikembangkan. “Oke ITB, tolong dong dikerjain gambarnya seperti apa”. Itu adalah daerah sudah ketemu, sudah dibor dan lain sebagainya. Istilahnya, tinggal meneruskan.

Ketika saya mengobrol sama kawan-kawan yang doktor-doktor itu, ada satu pertanyaan yang mendasar dan mungkin ini bisa dikatakan aneh. Saya tanya, mengapa riset batuan metamorf ini  kok tidak jalan? Jawab mereka: “Itu kan tidak ada hubungannya sama minyak”.

Bayangkan, sampai pendidik kita bilang ‘tidak ada hubungannya sama minyak?’ Riset itu dianggap tidak ada hubungannya sama minyak. Padahal, itu sangat berhubungan. Jadi, riset tektonik, endapan, sampai gempa itu ada kaitannya dengan minyak. Sudah sampai tersesatnya institusi pendidikan kita. Mahasiswapun diajari untuk nge-klik-nge-klik, bukan mencari minyak di tempat yang baru tetapi ‘ngudak-ngudak’ minyak di tempat yang lama. Dan itulah kebijakan kita hampir 13-15 tahun sejak 1998 yang saya amati. Kalau riset dasar kita lemah, konsep tetonik besar kita lemah, konsep cekungan besar kita lemah, ya kita tidak tahu mau ke mana. Kita tidak bisa ekplorasi.

Apa yang Bapak lihat jika kita juga fokus pada studi riset dasar?

Data cekungan diperbarui pada 2008 oleh BP Migas dan pada 2009 oleh ESDM menjadi 128 cekungan. Kenapa jumlahnya bisa bertambah? Karena ada datanya. Dulu tidak ada. Ini yang akhirnya dikatakan bahwa kalau cekungan kita banyak, berarti kita lebih banyak punya migas. Bagi saya, ini lebih banyak opportunity-nya. Cuma, kalau kita tidak pernah eksplorasi di cekungan, tidak ada konsep bagaimana kita ke situ, kita tidak akan pernah dapat apa-apa.

Mengambil data itulah eksplorasi. Studi itulah eksplorasi. Konsep eksplorasi ini yang orang tidak mengerti. Bayangan orang tentang itu eksplorasi itu adalah mengebor. Padahal itu rangkaiannya mulai dari studi-studi tentang konsepnya bagaimana, cekungan di mana, dan sebagainya, sampai mengusulkan akusisi seismik, barulah mengebor. Memang, biaya paling tinggi itu untuk mengebor. Tapi proses intelektualnya paling banyak adalah sebelum mengebor. Usaha yang dilakukan sampai sebelum mengebor itu 90 persen dengan biaya yang diperlukan cuma 20 persen dari keseluruhan proses eksplorasi. Biaya mengebor memang 80 persen dari total proses. Tapi, banyak penemuan besar asalnya dari studi-studi seperti itu.

Bisa dirinci biayanya?

Untuk mengebor di laut dalam butuh sekitar US$ 200 juta. Tapi untuk survey, itu hanya butuh US$ 5-10 juta  atau Rp50-100 miliar. Banyak yang bisa dilakukan. Pemerintah ada duit untuk itu. Dari dulu saya selalu provokasi  ke pemerintah untuk eksplorasi, bukan ngebor-nya. Ngebor-nya tidak perlu dilakukan pemerintah. Tapi nyatanya, usaha (studi, red) yang 90 persen ini dilakukan oleh bule-bule itu sehingga mereka mendapatkan privilege. Kita lack di 90 persen usaha ini. Kita sebenarnya mampu, cuma belum mengerti saja prosesnya. Itu yang harus dilakukan. Duit untuk itu sebenarnya kecil. Kalau kita mau investasi, sudah dari 15 tahun lalu seharusnya.

Tapi tidak ada kata terlambat. Tidak apa-apa kalau belum ketemu. Minyak itu masih ada di sana. Asal belum diambil orang saja. Buat anak cucu kita masih ada. Tapi saya harus menyadarkan orang bahwa ‘they are doing wrong, they are perceiving wrong’ soal proses sebelum mengebor itu. Masalahnya adalah mau atau tidak kita mulai. Jika tidak, hilanglah kesempatan karena diambil orang asing.

Ada contoh riilnya?

Itu kejadian ketika Black Gold Company membuat kita bergairah sejak 6-7 tahun terakhir, sejak 2005. Mereka yang melakukan spec survey di seluruh Indonesia dengan biaya US$ 50 juta. Dan dari situ, mereka medapatkan data sehingga mereka punya hak privilege untuk memperjualbelikannya. Akhirnya mereka punya blok sendiri karena mereka tahu data itu. Mereka perjualbelikan blok itu. Modalnya balik. Mereka punya blok baru, punya potensi baru dan kita tidak punya bargaining. (jamal syarifuddin/cundoko aprilianto)

Index Kategori Ini »


Baca juga yang iniclose