Home » Featured » Lumpur Pengeboran Netralkan Tekanan Sumur
Mark Felix

Lumpur Pengeboran Netralkan Tekanan Sumur

Lumpur Pengeboran Netralkan Tekanan Sumur

MigasReviewSalamander Temukan Gas di West Kerendan-1. Baca ... », Jakarta – Teknik pengeboranSKK Migas: Kegiatan Pengeboran dan Eksplorasi Harus Ditingkatkan. Baca ... » minyak dan gas bumi (migasProduksi Sumur KM-174 Mirach Stabil di 16 Bph . Baca ... ») merupakan proses yang harus dilalui oleh perusahaan migas untuk menemukan dan memproduksi migas dari  dalam lapisan bumi.

Dalam pengeboran minyak terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan, seperti  tujuan dari drilling (pengeboran) yaitu untuk membuang, menghilangkan formasi batuan atau memuat jalur transportasi menuju ke batuan reservoir yang ada di dalam perut bumi (sumur minyak). Selanjutnya adalah membuang fragmen batuan (rock fragment, cutting) yang dihasilkan (berupa lumpur) ketika operasi drilling dilakukan.

Field Coordinator PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PTDSI) Mark Felix mengatakan, banyak variabel yang perlu diperhitungkan selain menentukan titik pengeboran. Untuk mengetahui tekanan dari dalam sumur, perlu disesuaikan dengan pemilihan lumpur supaya terjadi netralisasi tekanan agar tidak terjadi penyemburan ke luar sumur.

Berikut pemaparannya saat ditemui MigasReview.com di sela acara konvensi dan eksibisi the Indonesian Petroleum Association (IPA) ke-37, beberapa waktu lalu.

Perhitungan apa yang perlukan untuk melakukan pengeboran?

Sebelumnya, ada dua jenis pengeboran, yaitu eksplorasi dan eksploitasi. Variabel yang menjadi perhitungan banyak. Salah satu contohnya, dimulai dari penghitungan ketinggian atau kedalaman pengeboran. Seiring dengan penambahan kedalaman, tentu semakin dalam tekanannya semakin tinggi. Kalau untuk pengeboran eksploitasi, kita bisa menentukan letak pengeboran berdasarkan referensi dari hasil pengeboran sumur sekitar yang sudah menghasilkan atau berproduksi.

Sementara itu, pengeboran eksplorasi berdasarkan hasil data seismikPengembangan Lapangan Migas Butuh Perencanaan Detail. Baca ... », topografi, patahan serta sifat kandungan yang berada di dalam lapisan bumi. Itu harus dipelajari terlebih dahulu. Maka, peran ahli geologi sangat penting karena harus melakukan pemetaan. Apakah ada lapisan batubara, lapisan basement (lapisan keras), lapisan scale (lapisan sisik) dan lain sebagainya. Sehingga, saat bertemu dengan lapisan-lapisan tersebut, kita baru bisa mengetahui berapa perkiraan kekuatan tekanan yang berada di masing-masing lapiran. Selanjutnya pada proses pengeboran, agar tekanan di bawah tidak lebih tinggi, distabilkan menggunakan mud (lumpur) yang dikondisikan sesuai dengan kondisi permukaan atau formasi lapisan yang akan ditembus.

Misalnya, karakterisitik formasi lapisan batubara lebih soft untuk ditembus, sehingga untuk penekanan pada weight on bit (WOB) kita turunkan kemudian sirkulasinya ditinggikan supaya tidak terjadi jepitan. Maka, untuk menentukan parameter pengeboran pada masing-masing well (sumur) memang punya karakterisitik yang berbeda-beda dan spesifik, tergantung pada area pengeboran, karateristik dari geologi, kemudian hasil dari seismik.

Tadi Anda katakan pengeboran supaya tidak terjepit. Gambarannya bagaimana?

Waktu kita melakukan pengeboran, terdapat formasi yang unconsolidated atau tidak kompak. Sifatnya seperti partikel-partikel yang kemudian runtuh apabila kita tidak cepat menangani dengan mengantisipasi, mulai dari daya angkat cutting (pecahan formasi lapisan tanah) hingga laju pengeboran ke dalam. Akibatnya, runtuhan tadi akan menutup lubang sehingga rangkaian pengeboran terjepit, dalam artian tidak bisa dinaikkan dan tidak bisa juga diturunkan. Akhirnya stuck, proses pengeboran pun terhenti.

Untuk penentuan lumpur, pertimbangan apa yang harus diperhatikan?

Penggunaan mud drilling tergantung pada formasi yang dihadapi. Jenisnya bermacam-macam. Beberapa komposisi mud yang perlu ditambahkan ditentukan berdasarkan viskositas, pH balance (tingkat keasaman), temperatur, kandungan atau daya menyerap air dan lain sebagainya. Kalau kita bicarakan mud, memang butuh SDM (sumber daya manusia, red) khusus, yaitu mud engineering.

Apa yang menyebabkan terjadinya blowout (penyemburan)?

Ada beberapa kemungkinan. Pertama, pada saat menembus suatu formasi lapisan tertentu, ternyata mengandung tekanan yang relatif tinggi dan kemungkinan formasi tidak kompak. Kedua, lumpur yang digunakan pada saat pengeboran ternyata tidak bisa mengimbangi tekanan dari dalam formasi tadi karena di dalamnya ada pore pressure (lubang tekanan) yang terjebak di formasi itu sendiri. Itu membentuk seperti kantung, dan begitu kantung yang berisi tekanan tersebut pecah, gas yang ada di pore pressure berpencar secara ekspansif ke atas. Sehingga, tekanan lumpur yang tidak dapat mengimbangi tekanan formasi yang datang tiba-tiba menyebabkan penyemburan ke atas yang tidak terkendali.

Bagaimana menangani blowout?

Ada 2 cara. Untuk menangani kick and flood blowout itu sendiri perlu menggunakan mud properties. Makanya, penanganan pertama mencegah well problem, yang praktis adalah mud. Kedua, blowout preventer, yaitu alat secondary yang tujuannya untuk menutup maupun mengalirkan tekanan yang berada di lubang dan diarahkan ke suatu titik agar tekanan yang tidak terkendali di dalam sumur bisa dikendalikan. Salah satu caranya bisa dengan dibakar. Selama proses pengendalian tersebut, kita melakukan secara sequent (berturut-turut) dengan menambahkan aditif, menambah berat lumpur, dan lain sebagainya. Sehingga, kita bisa melakukan proses netralisasi tekanan sumur yang datang secara tiba-tiba. Penentuan lumpurnya tergantung pada tingkat kedalaman. Semakin dalam sumur, tekanan yang dihasilkan semakin besar. Sehingga, untuk menetralisasinya perlu lumpur yang memiliki spesifikasi sama dengan besaran tekanan tadi. (anovianti muharti)

Index Kategori Ini »


Baca juga yang iniclose